www.kegawarrior.com

Senin, 31 Mei 2010

10 Game Berbahaya untuk Anak




Libur sekolah di depan mata. Lembaga penelitian National Institute on Media and the Family (NIMF) mengeluarkan daftar game yang tidak layak dimainkan anak. Pasalnya pada musim liburan, banyak anak akan menghabiskan waktu di depan monitor dan TV untuk bermain video game.

Menurut NIMF, game-game beradegan kekerasan dengan konten khusus dewasa ternyata sering dimainkan oleh anak-anak.

NIMF mengimbau agar orangtua mendamping anaknya saat bermain game. Mereka mengeluarkan daftar 10 game yang dianggap berbahaya dan perlu dijauhi bagi anak-anak, seperti dikutip dari Digitaljournal, Rabu (26/11/2008):

1. Blitz: The League II
Game ini adalah game olahraga football yang identik dengan kekerasan antar pemainnya. Game ini dikeluarkan oleh Midway, yang juga penerbit game Mortal Kombat.

2. Dead Space
Dead Space merupakan game horor yang dirilis Electronic Arts, di mana karakter utama dalam game ini harus berkelahi melawan monster yang dijuluki "Necromorphs". Untuk memberikan kesan horor dan kesadisan yang lebih nyata, mayat dalam game dibuat seperti mayat betulan.

3. Fallout 3
Fallout 3 adalah game action role-playing dari Bethesda Game Studios. Game ini memiliki setting waktu sekitar abad 23 dimana dunia mengalami kehancuran total menjadi sebuah wasteland akibat perang nuklir.

4. Far Cry 2
Far Cry 2 dikembangkan oleh Ubisoft Montreal untuk konsol Xbox 360, PlayStation 3, dan PC. Ini adalah game pertempuran di sebuah desa. Gamer juga akan dihadapkan pada petualangan mengendarai perahu boat yang mengharuskan pemainnya melakukan zig-zag melewati jurang.

5. Gears of War 2
Game yang satu ini diterbitkan oleh Epic Games dan Microsoft Game Studios. Gears of War 2 adalah game tembak-tembakan sehingga sudah pasti ada banyak senjata pada game ini. Gears of War 2 kabarnya lebih sadis dan lebih brutal.

6. Legendary
Game Legendary dikembangkan oleh Spark Unlimited, produsen video game yang berbasis di Sherman Oaks, California, Amerika Serikat. Karakter utama dalam game ini bernama Charles Deckard, pencuri benda-benda seni. Salah satu yang hendak dicuri Charles adalah sebuah kotak kuno yang disebut kotak pandora. Celakanya, saat kotak itu terbuka, lepas segerombolan makhluk buas dan mengacaukan dunia.

7. Left 4 Dead
Game ini bertemakan zombie dan dikeluarkan oleh Electronic Arts. Game ini mengandung adegan-adegan sadis dan brutal. Pemain dalam game ini harus bekerja sama untuk bisa selamat melawan zombie

8. Resistance 2
Ini adalah game perang dengan latar perang dunia, di mana gamer diajak bertempur. Game ini dikembangkan oleh Insomniac Games. Seri pertama game ini sempat menuai kontroversi karena bangunan gereja yang ditampilkan pada game ini.

9. Saints Row 2
Game Saints Row menawarkan kebebasan untuk berbuat apa saja tanpa harus mengikuti aturan sebuah misi tertentu. Game ini penuh dengan penghianatan dan aksi balas dendam. Ada banyak misi yang bisa dilakukan, seperti aksi balapan jalanan, perampokan, pemalsuan asuransi dan aksi kreatif dan sadis lainnya.

10.Silent Hill: Homecoming
Silent Hill: Homecoming membawa gamer ke dalam dunia yang suram penuh kekacauan dan bernuansa teror mencekam di Silent Hill, kota sunyi terpencil yang selalu ditutup oleh kabut pekat.

Pendatang baru di Silent Hill adalah Alex Sheperd, seorang veteran perang yang berusaha mencari saudara laki-lakinya yang hilang secara misterius. Selain harus berhadapan dengan mahkluk jahat, ia juga harus menyelesaikan beberapa teka-teki

Jumat, 28 Mei 2010

Game Dituding Merusak Masa Kecil Anak






LONDON - Mantan pemimpin Partai Konservatif Inggris, Iain Duncan Smith, menuding video game benar-benar merusak sifat murni anak-anak. Pasalnya, tidak ada yang peduli dengan masalah batasan umur di dunia game.

Dilansir melalui Times Online, Senin (25/1/2010), Smith mengklaim game seharusnya dapat dibatasi oleh sensor umur, seperti dalam televisi, karena beberapa game dapat dikategorikan 'sangat ekstrim'. Bahkan Smith menjadikan Grand Theft Auto (GTA) sebagai salah satu conton kategori tersebut.

"Kita membiarkan anak-anak untuk kehilangan masa kecilnya, dan beberapa video game sangat mengajarkan kekerasan, seperti GTA. Game tersebut seharusnya ditujukan bagi pemain di atas umur 18 tahun, namun sepertinya tidak ada orang yang peduli akan hal itu," ujar Smith.

Padahal, lanjut Smith, vendor game telah melakukan notifikasi tersebut dengan menyematkannya melalui label yang ada di kemasan software game. Namun banyak orang tua yang tidak mengindahkannya.

Namun begitu, dikatakan ahli komputer game di Inggris melalui situs vg247, memperhatikan game rating sesuai umur sepertinya tidak terlalu membantu hal ini. Pasalnya, pemerintah Inggris pernah menyerukan vendor game untuk memperbesar kotak notifikasi umur pada kemasan video game. Namun hal itu tetap saja tidak berpengaruh.

Menurut data vg247, sekira 33 persen orang tua di Inggris masih memberika toleransi yang cukup besar bagi anak-anaknya untuk memainkan video game di atas umur.
(srn)

Astaga, Bocah Dua Tahun Hisap 40 Rokok Per Hari


Liputan6.com, Musi Banyuasin: Kebiasaan Ardi Rizal mengejutkan kita semua. Bayangkan saja, balita berusia dua tahun asal Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, ini menghisap 40 batang rokok setiap harinya. Apalagi jika kebiasaanya tidak terpenuhi, bisa-bisa Ardi mengamuk.

"Dia benar-benar kecanduan. Jika ia tidak mendapatkan rokok, dia marah, menjerit, dan membenturkan kepalanya ke tembok. Katanya ia merasa pusing dan sakit," isak ibunya, Diana (26). Soal hobinya yang berbahaya ini, Ardi juga pemilih. Ia hanya mau menghisap satu jenis merek rokok. Juga karena kebiasaan Ardi, orang tuanya harus mengeluarkan uang 50 ribu rupiah perharinya.

Orang-orang mungkin terheran-heran, bagaimana bisa sang ayah, Muhammad (30) sudah mencekoki buah hatinya dengan rokok saat berusia 18 bulan. Kondisi Ardi menarik perhatian para pejabat yang menawarkan akan memberikan mobil kepada keluarga ini, asalkan Ardi berhenti merokok.

Namun, Mohammed yang bekerja sebagai pedagang ikan mengatakan, "Dia tampak cukup sehat bagi saya. Saya tidak melihat adanya masalah." Wah-wah bapak tidak bertanggungjawab ini seolah tidak merasa bersalah setelah menjerumuskan anaknya.

Kasus anak balita merokok ini sebelumnya juga terjadi di Malang, Jawa Timur. Sas seorang bocah yang baru berusia tiga tahun tumbuh sebagai bocah yang pandai merokok dan berkata kotor. Keadaan yang membuat miris setiap orangtua [baca: Ibu Menyesal Sang Buah Hati Merokok].

Kasus yang sama juga terjadi di Subang, Jawa Barat. Bocah tujuh tahun sudah merokok hingga dua bungkus perhari sejak masih berusia tidak tahun [baca: Bocah Tujuh Tahun Merokok Dua Bungkus Sehari].(TheSun/AST/AYB)

Minggu, 23 Mei 2010

Gangguan Jiwa Bisa Dideteksi Sejak Usia Dini


Jakarta (ANTARA) - Direktur Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta Ratna Mardiati mengatakan, potensi gangguan kejiwaan pada seseorang bisa dideteksi sejak kecil.

"Itu bisa diketahui sejak usia dini dari daya tahan mental mereka," kata Ratna Mardiati ketika ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Jakarta, Kamis.

Menurut dia, ada suatu kelemahan pada diri seseorang yang sering diabaikan sebagai potensi masalah di kemudian hari.

"Misalnya saja keterlambatan bicara, berjalan, dan belajar. Lantas ada anak yang sering diolok-olok temannya. Itu adalah bentuk kelemahan yang harus diperhatikan," katanya

Ratna mengatakan, orang dengan masalah kejiwaan punya titik lemah yang berbeda satu sama lain. Gangguan daya tahan mental tersebut disebabkan oleh faktor internal individu.

"Kondisi sosial ekonomi itu hanya pencetus. Faktor yang oleh kami, psikiater, dianggap sebagai penyebab ada dalam diri individu. Bakat," katanya.

Menurut dia bakat itu muncul karena gangguan psikologis dan fungsi otak.

"Bagaimana dia dapat bakat itu? Pertama, karena dia terlahir dengan otak tidak berfungsi baik, proses kerjanya terganggu karena mungkin ibunya pernah berusaha menggugurkan janin, karena keracunan atau infeksi otak. Kedua, karena masalah psikologis. Misalnya dia selalu ditakut-takuti sejak kecil sehingga sampai dewasa hidup dalam ketakutan," katanya.

Ia menjelaskan, orang dengan bakat gangguan daya tahan mental baru bisa mengalami gangguan jiwa jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka untuk mengatasi kelemahan.

"Kalau dukungan keluarga bagus, orang dengan kelemahan daya tahan mental, dengan gangguan di otaknya, tidak akan apa-apa. Gangguan itu muncul kalau dia tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan," katanya.

Oleh karena itu dia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun daya tahan mental anak.

Ratna mengatakan orang tua bisa menjalankan perannya dengan memperhatikan setiap tahapan perkembangan anak secara baik dan membantu anak-anak mengatasi kelemahan mereka dengan berusaha mendengarkan dan memahami kebutuhan mereka.

"Jadi masalah gangguan jiwa sebenarnya bisa dicegah kalau orang-orang memahami dan memperhatikan ini," katanya.

Dia mengakui sampai saat ini pemahaman masyarakat mengenai masalah kesehatan jiwa masih rendah.

Sebagai fasilitas yang memberikan pelayanan kesehatan jiwa, kata Ratna, Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan berusaha meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui program Kesehatan Jiwa Masyaraka yang dijalankan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui kegiatan pos pembinaan terpadu (posbindu) dan posyandu.

"Tapi memang masih harus ditingkatkan," katanya.

Menurut dia penyebarluasan informasi mengenai kesehatan jiwa sebenarnya akan sangat efektif jika dilakukan melalui pendidikan sekolah.

"Ini bisa dilakukan kalau para guru kembali menjalankan tugasnya untuk mendidik anak-anak, bukan sekedar mengajar," katanya.

Selasa, 18 Mei 2010

ATURAN IKLAN UNTUK ANAK-ANAK


DALAM IKLAN TIDAK BOLEH MENJUAL PRODUK YANG BUKAN UNTUK ANAK-ANAK, (harus dibedakan mana yang untuk anak-anak dan mana yang untuk orangtuanya)

Seringkali saat kita sebagai orangtua atau guru, mengajar mereka dengan cara orang dewasa yang semestinya memang untuk orang dewasa. Kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak. Apa yang diajarkan untuk mereka, ajarkan untuk mereka. Namun sebaliknya, porsi yang untuk orangtua, juga berikan kepada orangtua. Di lapangan sering ditemui, orangtua sudah mengajarkan "membunuh" lawan anak-anak mereka. Orangtua menemani dan membantu anak-anak bermain game dengan tema balas dendam dan pembunuhan!!!! What? Its real!

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Jay Martin dari Universitas Southern California ditemukan bahwa (dalam studi beberapa tahun atas 732 anak) konflik dengan orang tua, perkelahian sesama anak, dan kejahatan remaja, ternyata ada korelasinya dengan jumlah jam menonton televisi". Titik beratnya pada berapa lama waktu yang dipergunakan untuk menonton. Dari dunia game ditambahkan bahwa dari keseluruhan tema game yang beredar sekarang ini ternyata hanya 10% yang berisi perbuatan baik dan perilaku menolong!!

IKLAN TIDAK BOLEH MEMAKAI SELEBRITI ANAK YANG TERKENAL UNTUK MENGIKLANKAN PRODUK (promosi atau meng"endorse")

Mengapa demikian? Karena otomatis anak-anak akan "hanyut" dan "terhipnotis" untuk membeli produk itu. Bukan karena produknya tetapi karena bintang ciliknya!

Gereja juga melakukan hal yang sama. Mengundang selebriti untuk menarik massa/jemaat. Seringkali orang datang bukan karena "produk atau yang Punya produk" tetapi karena ada artisnya. Hmmm, memang anak-anak "kecil" sich! KKR Anak mengundang artis, saya tidak setuju. Artis hanya untuk mengumpulkan masa, tapi bukan itu caranya. Yesus nggak perlu artis! Walaupun waktu itu ada tokoh-tokoh pada jamannya. Itu aja yang mengikuti Dia ribuan orang..

WYSIWYG (What You See Is What You Get) IKLAN HARUS JELAS APA YANG DILIHAT ITULAH NANTI YANG MEREKA DAPAT

Seringkali promo pada anak-anak hanya oke di layar, tetapi tidak jelas aturannya. Promo discount-pun seringkali demikian. Hanya untuk menjebak calon pembeli.

Apakah pengalaman kita yang pernah kita dapat (get) dapat dilihat (see) oleh anak-anak? Sehingga mereka tidak hanya melihat (see) saja tetapi juga mendapatkan (get) apa yang kita ajarkan tentang Yesus dengan seluruh eksistensiNYA.Ingat kisah Ayub. Kalau dulu ia mengenal Allah dari kata orang, hingga akhirnya ia melihat (see) dan mendapatkannya (get) sendiri.

TIDAK BOLEH MEMBERIKAN SUGESTI PADA ANAK-ANAK. MISAL: KALAU PAKAI PRODUK INI PASTI HEBAT, LEBIH PINTAR, DSB

"Anak-anak...gereja kita lebih baik dari gereja di sana.. lihat ada semuanya di sini" demikian kata salah satu guru SM pada murid-muridnya. Ada yang lain,"Gereja di sana tidak pakai tepuk tangan, di tempat kita pakai, jadi kitalah yang paling oke di hadapan Tuhan."
Ajarkan anak-anak untuk memahami keragaman dalam tubuh Kristus. Bawa mereka pada kesatuan hati dalam Kristus. Saya percaya, anak-anak lebih mudah untuk hal ini dibandingkan kita orang dewasa. Jangan menjelekkan atau menyudutkan denominasi tertentu di hadapan anak-anak, atau mengajarkannya!! Kecuali memang benar-benar menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Itupun harus tetap diajarkan bagaimana kita tetap mengasihi mereka.

TIDAK BOLEH MENGIKLANKAN LEBIH DARI 1 KALI TAYANG IKLAN PRODUK YANG SAMA DALAM WAKTU 30 MENIT

Hal tersebut dianggap "mencuci otak" mereka. Luar biasa, jikalau Firman Tuhan yang terus diperkatakan, artinya otak anak-anak kita jadi tercuci dengan baik. Firman Tuhan yang memerdekakan, Firman Tuhan yang membawa perubahan!
Berapa banyak orangtua dan guru mengajar, yang disampaikan bukan lagi Firman Tuhan, tetapi mujizat yang dialami saja, berkat yang dialami, kesehatan, dsb. Kadang tak ada satupun kutipan Firman yang disampaikan. Semuanya tentang dirinya sedangkan Yesus tak diceritakan! Kabarkan tentang Yesus dan KerajaanNYA, bukan kerajaan kita!


Lets move and be mover!
Prepare to next generation...
Kak Toni

Waspadai Perampas Masa Depan Anak ANDA!


SUNGGUH mencengangkan hasil survei yang dilakukan Lembaga Asosiasi Selamatkan Anak Indonesia yang menemukan 100 persen dari 961 siswa SMP di Kota Jakarta, Palembang, dan Karawang pernah bersentuhan dengan pornografi. Ironisnya 40 persen anak-an,ak "menikmati santapan" tentang pornografi di rumah dan 68 persen masih aktif mengakses pornografi. Artinya, rumah bukan lagi tempat aman bagi anak-anak dan hal ini sekaligus penegasan bahwa kita harus waspada terhadap perampas masa depan anak kita. Pertanyaannya, apa perampas masa depan anak itu?

Pertama, pornografi. Belum lama ini Indonesia kembali digegerkan dengan kasus mutilasi dan sodomi yang dilakukan Baikuni alias Babe. Jika ditelusuri akar penyebab utamanya, tiada lain kebiasaan mengonsumsi pornografi. Menurut Tatty Elmir, Ketua II Asosiasi Selamatkan Anak Indonesia, pada 2008 terdapat kurang lebih,2.ooo video porno dengan local content pelajar Indonesia dan meningkat dua kali lipat pada 2009. Selain itu yang perlu diwaspadai adalah game, komik, dan buku bacaan anak yang berisi pornografi.

Kedua, seks bebas. Hasil survei Lembaga Asosiasi Selamatkan Anak Indonesia menunjukkan, 93,73 persen remaja melakukan pacaran dengan cara berciuman, petting, dan oral seks. Dari 405 kehamilan yang tidak direncanakan, 95 persen dilakukan remaja 15-25 tahun. Angka kejadian aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta kasus, 1,5 juta di antaranya dilakukan remaja. Selain itu, laporan yahg dilansir Annisa Foundation 2008 menunjukkan, 42,3 persen pelajar siswa SMP dan SMA di salah satu kota di Jawa Barat melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Sekitar 21-30 persen remaja di Jakarta, Bandung, Yogyakarta melakukan seks pranikah.

Ketiga, narkoba. Di Indonesia tiap hari 40 anak bangsa mati sia-sia karena narkoba. Laporan Komisi Perlindungan Anak 2007 menyebutkan, terjadi peningkatan pengguna narkoba pada anak-anak sebesar 1,360 persen. Badan Narkotika Nasional melaporkan, 32 persen dari total 3,2 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa (1.037.682 orang). Selain itu, 33 persen remaja kecanduan rokok dan dampaknya 57.000 orang per tahun mengembuskan napas terakhirnya.

Keempat, televisi. Fakta menunjukkan, 1.500 jam setahun dihabiskan anak-anak Indonesia untuk menonton televisi. Sebanyak 67 jam infotainment ditayangkan setiap minggu dan sangat sedikit waktu yang diberikan TV untuk acara anak-anak (bahkan ada stasiun televisi yang tidak menayangkan program anak). Pada beberapa kasus terdapat korelasi signifikan antara tayangan televisi yang ditonton anak dengan tindak kekerasan (bullying) terhadap
anak-anak di tempat belajar formal alias sekolah.

Lantas, bagaimana solusinya? Tatty Elmir menyajikan beberapa resep efektif yang dapat dilakukan guru di sekolah seperti mengefektifkan pembinaan iman dan takwa pada hari tertentu (misalnya Jumat/ Sabtu). Mengembalikan standar nilai-nilai baik-buruk kepada prinsip/dalil agama dengan bahasa yang lugas. Lebih fokus dalam pendidikan akhlak, termasuk hal-hal yang kerap disepelekan seperti konsep muh-rim, aurat, dan pergaulan yang diridai Allah SWT. Guru harus berani melakukan razia handphone dan tas rutin 1-2 kali/bulan pada hari yang tidak diketahui siswa dan bila perlu berkoordinasi dengan kepolisian. Lakukan penyuluhan berkala dengan mendatangkan ahli.

Upayakan guru selalu datang lebih awal untuk menyambut murid di pintu gerbang sekolah/kelas, agar tahu wajah anak yang sehat dan yang bermasalah sebagai deteksi aini. Jangan sungkan membuat kontrak belajar dengan siswa, agar siswa tahu hak dan kewajiban, dan menerima risiko hukuman tegas jika melanggar. Pastikan sebelum pulang, kelas dalam keadaan terkunci. Banyak kasus seks bebas/video porno pelajar, dilakukan di kelas/area sekolah ketika sekolah bubaran.

Bagi orang tua, mulailah perubahan itu dari diri sendiri, dengan meyakini pendidikan yang efektif itu bukan melalui bahasa tutur, melainkan bahasa tubuh dengan perbuatan sebagai teladan. Tanamkan pendidikan agama sejak dini, bukan hanya aktivitas ritual semata, tetapi berikut dengan nilai-ni-
lai dan makna ritual itu sendiri. Kembalikan standar baik-buruk kepada prinsip-prinsip agama. Biasakan salat jamaah dalam keluarga, dan mendiskusikan setiap situasi perkembangan zaman dan masalah-masalah pribadi menjadi masalah/beban keluarga. Jangan pernah merasa mendidik itu in-stinktif, jadilah orang tua yang mau belajar, bagaimana seharusnya menjadi orang tua, dengan cara ikut kelompok kajian atau pelatihan parental. Jadilah orang tua yang gagah teknologi (bukan gagap teknologi). Belajar memahami perasaan anak dengan cara ikut aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan anak. Ketahuilah apa isi handphone, tas, dan kamar anak dengan bijak. Jadikan anak sebagai sahabat curhat.

Ketahui apa yang diakses anak di dunia maya bila perlu pelajari game yang mereka mainkan. Tempatkan kompu-ter/akses internet di ruang keluarga dengan layarnya yang menghadap ke tempat anggota keluarga berlalu lalang agar siapapun dapat memantau apa yang diakses anak. Luangkan waktu rutin rekreasi keluarga. Ajak anak membuat sendiri jadwal hariannya dengan kesibukan positif yang mereka inginkan dan sukai.

Akhir kata, kita harus proanak dalam memberikan perhatian, proteksi, dan bantuan untuk mengantisipasi sepak terjang perampas masa depan anak. Kapan harus dilakukan? Lebih cepat lebih baik, oleh karena itu lanjutkan!***

Penulis, Dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dan Sekolah Pascasarjana UPI

Jumat, 07 Mei 2010

Perilaku Ayah Ditiru Anak


Perilaku Ayah Ditiru Anak
Ayah merupakan model bagi anak-anaknya. Meniru perilaku baik ayah, itu yang dimaui. Namun, hati-hati anak bisa pula meiru perilaku sebaliknya. Tak sedikit ayah menyadari apa yang mereka lakukan tidak ingin ditiru anak. Para ayah juga tidak yakin apa yang seharusnya mereka lakukan. Misalnya saja, sepanjang hari Minggu ayah hanya bermain games di komputer, bermalas-malasan dan tak peduli kran kamar mandi bocor. Sikap ayah, direkam anak. Ayah tahu ini tidak baik dan, tentu saja, ayah tak ingin anak-anaknya kelak juga berperilaku demikian. Tetapi, apa tidak boleh bermalas-malasan di hari Minggu Apa pun jenis kelamin anak, ayah merupakan model. Sikap ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain, terekam dengan baik dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih senang meniru perilaku ayah. Ayah yang bermalas-malasan, memberi jejak pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Pada anak perempuan, akan muncul pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan, memang begitulah sifat laki-laki! Mulailah jadi ayah oke. Menjadi ayah merupakan proses panjang, yang diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, yang menghargai istri dan anak-anak, yang peduli urusan rumah, yang sadar perilakunya menjadi teladan bagi anak, tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. Benih perilaku ini sudah ada dalam dirinya sejak kecil. Tapi, bukan berarti, tak ada harapan bagi para ayah yang ingin menjadi ayah yang lebih baik. Ada cara yang bisa Anda jalankan. Syaratnya, Anda tulus melakukannya.
  • Perlakukan ibunya anak-anak dengan baik. Menjaga keutuhan perkawinan, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibunya anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.
  • Peka kondisi rumah. Perhatikan hal-hal kecil di rumah. Misalnya, jangan cuek bila lampu taman dalam beberapa hari ini kedip-kedip. Tak perlu menunggu sampai istri dan anak-anak mengingatkan, "Yah, lampu taman perlu diganti, tuh. Udah dua hari kedip-kedip." Eh, sudah diingatkan masih juga Anda cuek. Jelek sekali ayah yang demikian!
  • Luangkan waktu bersama anak. Cara ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak paham ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan, ayah mementingkan dirinya sendiri.
  • Bicara pada anak. Biasanya ayah hanya mau bicara pada anak bila anak melakukan kesalahan. Mulailah ngobrol dengan anak sejak masih kecil. Dengarkan ide serta masalahnya.
  • Jadilah guru bagi anak. Ajarkan anak-anak hal baik dan buruk. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.
  • Disiplinkan anak dengan cinta. Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan cuma hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.
  • Sediakan waktu untuk makan bersama. Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.
  • Tunjukkan perasaan pada anak. Anak-anak butuh rasa aman dengan cara mengetahui bahwa mereka dibutuhkan dan dicintai ayahnya. Mereka juga butuh dipeluk ayah. Tunjukkan perasaan Anda agar anak-anak yakin Anda mencintainya.

Selasa, 04 Mei 2010

Resensi film " I am SAM"


sinopsis :
Seorang pria (Sam Dawson) dengan keterbelakangan mental harus membesarkan anak seorang diri karena istrinya pergi meninggalkannya sesaat setelah melahirkan. Sampai saat anaknya (Lucy) berumur tujuh tahun, lembaga sosial pengawas anak mengambilnya dari Sam karena sebagai orang tua yang memiliki keterbelakangan mental Sam dianggap tidak mampu membesarkan anaknya.
Namun Sam tidak tinggal diam, segala daya dan upaya dilakukan untuk merebut anaknya. Sam harus bertarung di pengadilan untuk mendapatkan hak asuh anaknya kembali.

Yang menarik ternyata Rita, pengacara profesional sebaliknya sekalipun normal dan memiliki segalanya tapi tidak memiliki hati yang bisa mengasihi anaknya.
Dalam film ini ditampilkan secara gamblang, bahwa bagi seorang anak waktu dan kasih dari orang tua lebih daripada segalanya yang bisa diberikan oleh orang tuanya sekalipun orang tuanya cacat mental seperti Sam.